Abdullah Az Zubair dengan Panggilan Ubay, Putera Pertamaku

Mungkin banyak dari rekan-rekan semua yang bertanya kenapa saya memberikan nama nya Abdullah Az Zubair, saya akan coba jelaskan melalui tulisan ini.

Nama adalah ciri atau tanda, maksudnya adalah orang yang diberi nama dapat mengenal dirinya atau dikenal oleh orang lain. Dalam Al-Qur’anul Kariim disebutkan;

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَل لَّهُ مِن قَبْلُ سَمِيًّا (7) سورة مريم

“Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia” (QS. Maryam: 7).

Pertama, Pemilihan Nama Depan Abdullah berdasarkan hadits yang diriwayatkan Muslim dalam Kitab Shahihnya dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ أَحَبَّ أَسمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبدُاللَّهِ وَ عَبدُ الرَّحْمَنِ

“Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.”(HR. Muslim no. 2132)

Karena nama tersebut adalah nama terbaik, sampai-sampai di kalangan para sahabat terdapat sekitar 300 orang yang bernama Abdullah.

Kedua, Az Zubair di ambil dari nama sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Zubair bin Awwam bin Khuwailid radhiyallahu ‘anhu  Beliau merupakan salah seorang “mubasyirin bil-jannah” (sepuluh sahabat yang dijamin masuk syurga). Beliau merupakan salah seorang pejuang yang hebat. Bersama dengan Khalid Al Walid radhiyallahu ‘anhu ,

Berikut Kisahnya :

Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Az-Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdil Uzza bin Qushai bin Kilab. Zubair adalah salah satu sepupu Rasulullah SAW, ibundanya bernama Shofiyah binti Abdul Muthalib adalah bibi Rasulullah SAW. Shofiyah juga termasuk golongan perempuan pertama masuk Islam, sedangkan Zubair sendiri masuk Islam dalam usianya yang sangat belia yakni 8 tahun. Sementara jika dilihat dari pihak ayahnya, maka Khadijah binti Khuwailid yang merupakan istri Rasulullah SAW adalah bibi Zubair, sehingga dalam hal ini Rasulullah SAW merupakan pamannya.

Semenjak kecil Zubair dididik dengan keras oleh ibunya sebagai seorang yang pemberani dan kuat. Tidak jarang Zubair dipukuli oleh ibundanya ketika dia memang berbuat salah. Karena kasihan sang paman Naufal bin Khuwailid yang sangat menyayangi Zubair pernah melaporkan peristiwa penukulan yang dilakukan oleh ibu Zubair kepada keluarganya bani Hasyim. Akan tetapi Shofiyah mengatakan bahwa apa yang dilakukannya kepada putrnya Zubair bukanlah bentuk penyiksaan tetapi merupakan pendidikan yang akan menjadikannya seorang yang berani dan bijaksana.

Sosok Zubair digambarkan sebagai seorang yang bertubuh tinggi, berkulit putih serta mempunyai banyak bulu badan dengan pipi yang tidak penuh terisi. Zubair menjadi sosok yang sangat pemberani. Dalam suatu kisah disebutkan bahwa suatu hari Zubair mendengar bahwa Rasulullah SAW telah wafat dibunuh. Tanpa berfikir panjang dengan segera dia keluar dari rumahnya lengkap dengan pedang yang menghunus di tangannya. Kemudian dia masuk ke dalam kerumunan banyak orang untuk mencari kebenaran tentang isu yang beredar mengenai Rasulullah SAW. Jika isu tersebut memang benar adanya, maka dia tidak akan segan-segan membunuh orang yang telah membunuh Rasulullah SAW. Tidak lama kemudian diapun bertemu dengan Rasulullah SAW di utara kota Makkah. Melihat Zubair membawa pedang yang siap menguhunus, Rasulullah SAWpun bertanya kepada Zubair: “Apa yang terjadi denganmu wahai Zubair?”, kemudian Zubairpun menjawab: “Aku mendengar bahwa engkau telah dibunuh!”, kemudian Nabi Saw berkata kepadanya,“Lalu apa yang akan engkau lakukan?” dia berkata,“Saya akan membunuh orang yang telah membunuhmu.”  Mendengar jawaban dan ketegasan Zubair, maka Rosulullohpun mendoakannya dengan kebaikan dan pedanganya dengan kemenangan. Dengan peristiwa ini maka Zubair dikenal sebagai orang yang pertama kali menghunuskan pedangnya di jalan Allah.

Sebagaimana para sahabat yang termasuk golongan orang-orang yang pertama masuk Islam (Assabiqunal Awwalun), keislaman Zubair juga tidak lepas dari tekanan dan siksaan. Dalam sebuah kisah disebutkan ketika mendengar keislaman Zubair, sang paman Naufal bin Khuwailid yang selama ini menyayanginya menjadi sangat berang. Kemudian sang paman memasukkan Zubair kedalam gulungan tikar yang diberi asap disekitarnya seolah hendak membakarnya. Naufal berkata kepada Zubair:”Hai Zubair, lepaskan dirimu dari Tuhan Muhammad, maka saya akan melepaskan dirimu dari api ini.” Namun Az-Zubair menolaknya dan berkata kepadanya, “Tidak mungkin saya melepaskan keimanan saya atas Allah SWT. Jika saya mati, saya harus mati dalam keadaan Muslim dan bukannya mati sebagai seorang kafir.” Demikianlah, pendirian Zubair yang begitu kokoh dan tidak pernah tergoyahkan meski dia menghadapi perlawanan dan siksaan dari keluarganya sendiri. Dia selalu konsisten atas apa yang dia yakini.

Ketika penyiksaan dan tantangan yang dihadapi oleh kaum muslimin semakin berat, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk berhijrah ke Habasyah. Zubairpun termasuk di dalamnya saat itu Zubair masih berusia 18 tahun. Sekembalinya dari berhijrah, Zubair kembali ke Makkah dan memulai untuk berbisnis. Keuletannya dalam berbisnis menjadikannya seorang yang kaya raya. Dia adalah salah satu sahabat yang kaya raya selain Ustman bin Affan. Dengan kekayaannya tersebut, dia banyak membantu kaum muslimin dan menyedekahkan harta bendanya untuk kepentingan jihad dan dakwah di jalan Allah.

Pada saat Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah bersama Abu Bakar Al-Shiddiq. Zubair tidak mengetahuinya karena dia sedang dalam perjalanan menuju syuriah untuk kepentingan bisnisnya. Sekembalinya dari syuriah menuju ke Makkah, di tengah jalan dia bertemu dengan Rasulullah SAW dan Abu Bakar yang hendak pergi berhijrah ke Madinah. Zubairpun membekali Rasulullah dengan pakaian dan perbekalan untuk perjalanan ke Madinah. Tidak lama setelah itu, Zubair akhirnya menyusul Rasulullah SAW untuk berhijrah ke Madinah bersama ibundanya Shofiyah dan istrinya Asma’ binti Abu  Bakar.

Sebagai seorang yang pemberani Zubair tidak pernah sekalipun absent dalam mengikuti peperangan yang terjadi di masa Rasulullah SAW. Mulai dari perang badar, perang Uhud, perang Khandaq. Bahkan dia juga sangat aktif dalam peperangan yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah SAW. Dia pernah mengikuti perang Yarmuk pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab melawan bangsa Romawi. Dia selalu menjadi orang yang selalu mengiayakan ajakan untuk berjihad, sehingga Rasulullah SAW pernah berkata:  ‘Sesungguhnya setiap Nabi itu memiliki penolong, dan penolongku adalah Zubair‘.”

Zubair juga dikenal sebagai seorang yang sangat dekat dengan Rasulullah SAW. Meski Zubair termasuk orang yang sangat dekat dan sering bersama Rasulullah SAW, tetapi dia tidak banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah SAW. Hal ini karena dia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:” Barangsiapa yang berkata dusta atasku dengan sengaja, maka akan ditempatkan di neraka”. Karena itu dia sangat takut meriwayatkan hadits yang tidak pernah diucapkan oleh Rasulullah saw sehingga tergelincir ke dalam neraka.

Selain seorang yang pemberani dan dekat dengan Rasulullah SAW Zubair juga dikenal sebagai seorang yang kaya raya. Dengan kekayaannya tersebut, tidak segan menyedekahkan seluruh harta bendanya untuk kepentingan dakwah dan jihad di jalan Allah. Zubair memiliki 1000 orang hamba sahaya yang senantiasa membayar upeti kepadanya (untuk pembebasan dirinya). Namun, tidak ada sedirham pun dari uang upeti itu yang masuk ke kantong pribadinya, dia menyedekahkan semua uang tersebut. Dalam kisah lain disebutkan bahwa Zubair selalu membagi-bagikan uangnya setiap malam, sehingga dia pulang tanpa uang sepeserpun di tangannya.

Zubair juga pernah menjual rumahnya seharga 600.000. Lalu dikatakan kepadanya, “Wahai Abu Abdillah, kamu telah ditipu dalam transaksi jual-beli itu’. Kemudian Zubair menjawab, “Demi Allah, tidak, kalian pasti akan tahu bahwa aku tidak tertipu dalam transaksi jual-beli itu! Sebab, semua uangnya akan aku pergunakan untuk keperluan fi sabilillah‘.” Begitu dermawannya Zubair, sehingga dia sendiri hidup dengan sangat sederhana, karena setiap dia mempunyai harta selalu akan disedekahkan. Bahkan Zubair meninggal dalam keadaan mempunyai hutang. Diapun berwasiat kepada putranya untuk membayarkan seluruh hutang-hutangnya sepeninggalannya. Dalam wasiatnya itu Zubair berkata kepada Abdullah putranya,“jika engkau tidak sanggup membayar hutang saya, maka mintalah tolong kepada Tuanku,” Abdullahpun bertanya,“Siapakah yang engkau maksud dengan Tuan?” beliau menjawab,”Allah, Dialah sebaik-baik pemimpin dan penolong.” Lalu setelah itu Abdullah berkata,“Demi Allah saya tidak pernah mengalami kesusahan dalam membayar hutangnya, kecuali saya berkata,’Wahai Pemimpin/pemilik Zubair bayarlah hutang Zubair,’ maka Diapun menggantinya.”

Abdullah putra Zubair sendiri pernah berkata bahwa yang dimaksud dengan hutang ayahnya Zubair adalah ketika suatu hari ada seorang yang menitipkan hartanya kepada Zubair. Namun Zubair berkata, “Aku tidak mau (kalau hanya sekedar titip), akan tetapi aku akan mengembangkan harta tersebut.” Lalu Zubair menghitung uang yang menjadi tanggungannya. Ternyata jumlahnya mencapai 2.200.000. Setelah wafatnya Zubair, dia tidak meninggalkan uang satu dirhampun, hanya dua bidang tanah yang ditinggalkan. Kemudian Abdullah putranya menjual tanah tersebut untuk membayar hutang-hutangnya. Ketika anak keturunan Zubair yang lain berkata kepada Abdullah, “Berikanlah hak waris untuk kami!” Abdullahpun berkata kepada merka, “Demi Allah, aku tidak akan membagikannya kepada kalian, sampai aku mengumumkan kepada orang-orang sebanyak 4 kali, musim haji, siapa diantara mereka yang pernah dihutangi oleh Zubair.”

Kemudian setiap kali musim haji tiba, Abdullah berkata kepada orang-orang, “Perhatian, siapa yang hartanya pernah dihutangi oleh Zubair, maka hendaklah dia datang kepada kami sehingga kami akan membayarnya.” Hal seperti ini terus dia lakukan selama empat kali musim haji. Baru setelah itu, harta waris hasil penjualan tanah itu dibagikan kepada anggota keluarga Zubair.

Zubair bin Awwam wafat pada saat terjadi perang Jamal. Saat Az-Zubair keluar dalam perang Al-Jamal, seseorang dari kaum Tamim bernama Amru bin Jarmuz mengikuti beliau dan membunuhnya dari belakang di suatu tempat  yang bernama lembah Siba. Setelah berhasil membunuh Zubair, pergilah Amru bin Jarmuz kepada Imam Ali dengan menduga bahwa dia telah membawa kabar gembira, setelah mengetahui hal tersebut Imam Ali justru berteriak dan berkata kepada pembantunya : “berikan kabar kepada pembunuh putra Sofiyyah dengan neraka, sungguh Rasulullah saw pernah bersabda kepada saya bahwa pembunuh Az-Zubair adalah penghuni neraka”. Az-Zubair wafat pada hari Kamis bulan Jumadil Ula tahun 36 Hijriyyah, dalam usia kurang lebih 66 atau 67 tahun[1].

Sesuai Kunyah nya adalah Abu Abdillah Az-Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu , Zubair bin Awwam juga memiliki putra bernama Abdullah Berikut Kisahnya :

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin az-Zubair bin al-Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bi Qushai. Abdullah bin Zubair atau dikenal dengan ibnu Zubair adalah putra Zubair bin Awwam, salah satu sahabat Nabi yang sangat setia dan temasuk ke dalam golongan sepuluh sahabat yang dikabarkan masuk surga dan ibunya bernama Asma binti Abu Bakar Al-Shiddiq. Dia masih keponakan dari istri pertama Rasulullah SAW Saw, Khadijah dan merupakan keponakan dari istri Rasulullah SAW Aisyah jika dilihat dari jalur ibunya. Ia termasuk salah seorang dari “Empat ‘Ibadillah” (empat orang yang bernama Abdullah) dari 30 orang lebih sahabat Nabi yang dikenal menghafal seluruh ayat-ayat Al-Qur’an, Tiga orang ‘Ibadillah lainnya adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar bin Khatab, dan Abdullah bin Amr bin As.

Kelahiran Abdullah bin Zubair merupakan kelahiran yang ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin di Madinah. Hal ini karena konon katanya orang-orang Yahudi mengutuk kaum muslimin agar tidak melahirkan bayi. Sehingga lahirnya Abdullah bin Zubair sebagai bayi pertama kaum muslimin setelah hijrah ke Madinah disambut dengan sangat gembira.

Mengenai kelahirannya, Asma (ibunya) bercerita bahwa suatu hari ketika sedang hamil tua keluar rumah. kira-kira kandungan itu sudah berumur sembilan bulan. Ibunya pergi ke Madinah dan berhenti di Quba ketika dirinya merasa bayinya hendak keluar. Firasatnya itu betul. Tak lama setelah berhenti sejenak di Quba, bayinya lahir. Setelah ibunya membawa bayi itu ke tempat Rasulullah agar didoakan. Rasulullah pun mengunyah kurma hingga lembut kemudian menyuapkan kepada bayi itu sembari berdo’a. Jadi pertama-pertama yang masuk di tenggorokan bayi itu adalah suapan Rasulullah. Bayi itu diberi nama Abdullah.

Masa kecil Abdullah bin Zubair banyak dihabiskan bersama Rasulullah SAW selama 8 tahun 4 bulan dia bergaul dan dekat dengan Rasulullah SAW sebelum kemudian beliau wafat kehadapan Ilahi. Bahkan Aisyah bibi ibnu Zubair telah menganggapnya seolah sebagai anaknya sendiri. Sehingga masa kecil Ibnu Zubair banyak dididik oleh Rasulullah SAW. Karenanya dia juga menjadi salah satu sahabat Nabi Saw yang meriwayatkan hadis.

Ibnu Zubair tumbuh menjadi sosok yang sangat pemberani, hal ini tidak lepas dari didikan langsung Rasulullah SAW dan ayahnya Zubair. Di usianya yang masih cukup belia yakni 12 tahun, dia sudah aktif dalam mengikuti berbagai peperangan. Pada saat terjadi perang Yarmuk di masa pemerintahan Umar bin Khattab, Ibnu Zubair ikut ayahnya berperang, dia dibonceng dibelakang ayahnya yang mengendarai kuda. Pada masa pemerintahan khalifah Ustman bin Affan, Ibnu Zubair juga mengikuti perang dalam rangka penaklukan Afrika, Andalusia dan Konstatinopel melawan orang-orang Byzantium. Dalam peperangan menaklukkan Afrika, jumlah pasukan kaum Muslimin hanya sekitar 20.000 orang, sedangkan tentara musuh mencapai 100.000 pasukan. Abdullah bin Zubair melihat kekuatan musuh terletak pada rajanya. Karenanya, ia berseru kepada pasukannya, “Lindungi aku,” dengan maksud untuk menerobos ke arah raja mereka dan menyerangnya dengan pedang. Kemudian Abdullah berhasil membunuhnya sehingga musuh pun berhasil dikalahkan.

Semua peristiwa tersebut mengundang kekaguman penduduk Madinah kepadanya.

Dalam sebuah kisah lain juga disebutkan bahwa suatu hari Umar bin Khatthab lewat di jalan, anak-anak yang melihat kehadiran Umar bin Khattab berlari ketakutan hanya Ibnu Zubair yang tetap di tempat dan tidak berlari. Maka, Umar pun bertanya, “Hai nak, mengapa engkau tidak lari seperti mereka?”, kemudia ia menjawab, “Mengapa aku harus Iari. Bukankah jalan ini tidak sempit sehingga aku harus memberikan jalan untukmu dan aku pun tidak berbuat salah?”. Mendengar jawaban iIbnu Zubair, Umar bin Khatthabpun berkata, ”Jika engkau telah besar, ia akan menjadi orang besar.”

Selain sebagai seorang yang pemberani dan ksatria Ibnu Zubair juga dikenal sebagai seorang yang ahli beribadah. Ia juga sering menangis karena takut kepada Allah. Dia juga seorang yang rajin sholat malam dan berpuasa di siang hari. Jika sedang sholat, Ibnu Zubair ibarat kayu yang ditancapkan dan tidak bergerak karena khusu’nya. Pada saat hendak melakukan shalat, Abdullah bin Zubair pun melupakan segala sesuatu, dan hanya memikirkan shalat, sehingga, andaikata burung-burung dara hinggap di punggungnya, pada saat sedang melakukan shalat, maka dia tidak merasakannya. Andaikata ada anak panah meluncur di antara jenggot dan dadanya, ia juga tidak akan merasakannya. Dalam shalat, ia tidak akan terkejut, apalagi ketakutan karena sesuatu di luar shalat. Sehingga tidak mengherankan jika di kalangan para sahabat dia dijuluki al-hammam al-masjid yang berarti merpati masjid.

Di masa Khalifah Usman bin Affan, ia duduk sebagai anggota panitia yang bertugas menyusun Al-Qur’an. Sedangkan pada masa Khalifah Ali bin Abi Talib, ia bersama Aisyah mengatur langkah untuk menantang Khalifah tersebut untuk menuntut penyelesaian kasus pembunuhan Khalifah Usman. Gerakan ini didukung oleh beberapa tokoh, seperti Ja’la bin Umayyah dari Yaman, Abdullah bin Amr Basra, Sa’ad bin As, dan Wahid bin Uqbah (pemuka kalangan Umayyah di Hedzjaz) dan beberapa sahabat senior (Talhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam), dan ayahnya. Akhirnya perselisihan tersebut diakhiri dengan meletusnya perang jamal yang menewaskan banyak kaum muslimin yakni sekitar kurang lebih dua ribu kaum muslimin termasuk kematian ayahnya Zubair bin Awwam.

Pada masa pemerintahan dinasti Umayyah. Ibnu Zubair juga menjadi salah satu penentang sang khalifah. Dia tidak mengakui penunjukan Yazid sebagai khalifah. Ia memprotes Yazid, putra Mu’awiyah, yang naik menjadi khalifah atas penunjukan ayahnya setelah ayahnya wafat. Setelah diangkat sebagai khalifah, Yazid memerintahkan walinya di Madinah untuk memaksa Ibnu Zubair bersama Husein bin Ali (cucu Nabi) dan Abdullah bin Umar agar menyatakan kesetiaan (berbai’at) kepadanya. Tetapi permintaan tersebut ditolak Ibnu Zubair dan Husein, sehingga mereka tetap membangkang Ketidaksetujuannya berbaiat dengan Yazid akhirnya berpengaruh luas di kalangan kaum muslimin sehingga melahirkan pemberontakan. Karena alas an keamanan, maka Ibnu Zubair dan Husein bin Ali akhirnya pindah ke Makkah.

Setelah kematian Husain bin Ali secara menyedihkan pada Pertempuran yang sangat tidak berimbang di Karbala, Ibnu Zubair kembali ke Hejaz, dimana ia menyatakan dirinya sebagai khalifah yang sebenarnya, dan dia mulai membentuk pasukan. Secepatnya ia mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan mengirim seorang gubernur ke Kufah. Segera, Ibnu Zubair memantapkan keuasaannya di Iraq, Selatan Arabia dan bagian terbesar Syria, serta sebagian Mesir. Ibnu Zubair memperoleh keberuntungan yang besar karena ketidakpuasan rakyat terhadap kekuasaan Bani Umayyah. Salah seorang pendukungnya adalah Muslim bin Shihab, ayah dari Ibnu Shihab al-Zuhri yang kemudian menjadi cendekiawan muslim terkenal.

Khalifah dari bani Umayyah Yazid mencoba untuk menghentikan pemberontakan Ibnu Zubair dengan menyerbu Mekkah pada tahun 64 H, ia mengirim pasukan yang dipimpin oleh Husain bin Numair. Pada saat pengepungan Mekkah, Husain menggunakan ketapel, dimana peluru ketapel ini pernah menghancurkan Ka’bah. Tetapi karena mendengar kematian Yazid yang tiba-tiba, maka Husain bin Numair menghentikan pengepungan tersebut dan kembali ke Damaskus. Ibnu Zubair menjadi khalifah hingga tahun 9 Hijriyah. Beberapa prestasi yang dicatat oleh sejarah dalam masa kepemimpinannya adalah pembaharuan dan renovasi Ka’bah dengan tidak membuang tiang-tiang penting yang diletakkan nabi Ibrahim. Prestasi lain yaitu beliau orang pertama yang membuat mata uang dirham berbentuk bulat. Uang dirham itu di salah satu sisinya bertulis Muhammad Rasulullah. Dan pada sisi lainnya, “Amrullah bil fawa’ wal adl.”

Selama beberapa tahun kekuasaan Islam terbagi menjadi dua dengan dua orang khalifah. Sementara perang saudara di dalam dinasti Umayyah dapat di akhiri dan diambil alih oleh Marwan, pemerintahan Ibnu Zubair pun mengalami pemberontakan dari kaum khawarij di Iraq, hal ini mengakibatkan kekuasaan Ibnu Zubair berakhir di Hejaz.

Kekalahan terakhir Ibnu Zubair terjadi di ketika kekhalifahan Umayyah dipegang oleh Abdul-Malik, dimana Abdul-Malik mengirim Hajjaj bin Yusuf untuk menggabungkan kekaisaran Islam. Khalifah Abdul Malik adalah putra dari Marwan  bin Hakam. Hajjaj bin Yusuf diberi tugas untuk menyelesaikan perlawanan Ibnu Zubair yang menantang beberapa khalifah mulai dari kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah, Yazid,  Marwan bin Hakam, sampai dengan khalifah Abdul Malik.

Pasukan Hajjaj melakukan pengepungan terhadap kota Makkah selama kurang lebih depalan bulan 17 hari. Selama itu pasukan Hajjaj terus melemparkan bola api melalui ketapel ke kota Makkah. Bahkan penutup ka’bah dan penyangganya ikut terbakar terkena bola api. Pengepungan dan penyerangan yang terus-menerus tersebut membuat Ibnu Zubair kewalahan, tetapi dia masih tetap bertahan meskipun banyak dari pengikut bahkan putra-putranya mulai menyerahkan diri kepada Hajjaj. Disaat-saat yang kritis, Ibnu Zubair kemudian menemui ibunya Asma binti Abu Bakar, pertemuan dengan sang ibu mendorongnya dengan memberikan semangat juang. Padahal sebelumnya, ia sempat menyatakan kepada ibunya rasa khawatir, bahwa mayatnya akan diperlakukan secara sadis oleh para pembunuhnya kelak. Asma menasihatinya agar tetap bertahan sampai kematian datang menjemput dengan berkata, “Demi Allah, tebasan sebilah pedang demi kemuliaan adalah jauh lebih balk daripada cambukan sepotong cemeti dalam kehinaan.” Abdullah bin Zubair menjawab perkataan ibunya, “Wahai ibuku, aku takut bila mereka telah membunuhku, mereka akan menjadikan jasadku sebagai contoh di tengah-tengah penduduk.” Lalu Asma berkata dengan perkataannya yang sangat masyhur, “Adakah kambing yang telah disembelih akan merasakan sakitnya dikuliti?” Maka, Abdullah bin Zubair pun lalu pergi menghadapi Hajaj sampai menemui ajalnya sebagai syahid. Setelah itu, Hajjaj bin Yusuf mendatangi Asma binti Abu Bakar menanyakan tentang hajatnya. Namun, dengan penuh keberanian Asma menjawab, ‘`Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa akan muncul dari bani Tsagif seorang pendusta dan seorang yang kejam. Adapun pendusta itu kami telah mengetahuinya, sedangkan seseorang yang kejam dan sewenang-wenang itu aku tidak menemukannya selain dirimu.”

Akhirnya Ibnu Zubair tewas dalam pertempuran tesebut badannya kemudian disalibkan. Atas perintah sang khalifah, mayat Ibnu Zubair kemudian diserahkan kepada ibunya dan kemudian dimakamkan. Ibnu Zubair meninggal pada tahun 94 H, sementara sang ibu Asma binti Abu Bakar yang berusia 100 tahun terus menangisi kepergian sampai akhirnya menyusul ke pangkuan ilahi tidak lama setelah putra tercintanya meninggal.

Lalu Kenapa Saya memberi panggilan Abdullah Az Zubair dengan Panggilan Ubay, ini juga merujuk kepada sahabat Nabi SAW Ubay bin Kaab radhiyallahu ‘anhu.

Berikut Kisahnya :

Ubay bin Ka’ab dikenal dengan sebutan Abu Mundzir. Selain mempunyai sebutan Abu Mundzir dari Rasulullah SAW Saw, Ubay bin Ka’ab juga dipanggil dengan Abu Thufail oleh Amr bin Ashl. Nama lengkapnya adalah Ubay bin Ka’ab bin Qais bin ‘Ubaid bin Zaid bin Mu’awiyah bin Umar bin Malik bin Nijar bin Tyim. Dia termasuk sahabat dari golongan anshor Madinah dari suku Khajraj yang pertama masuk Islam dan ikut bagian dalam perjanjian Aqobah.

Ubay bin Ka’ab adalah salah satu sahabat Nabi Saw yang sangat fasih dalam membaca al-Qur’an. Apalagi dia dikaruniai oleh Allah suara yang sangat indah, serak-serak basah, syahdu dan mempunyai intonasi yang bagus, sehingga dia dapat membaca al-Qur’an dengan merdu dan syahdu. Dalam sebuah kisah diceritakan jika Rasulullah SAW ingin mendengarkan Ubay bin Ka’ab membaca al-Qur’an dengan merdu berulang-ulang kali, beliau tinggal pergi ke rumahnya.

Dalam sebuah kisah lain disebutkan bahwa pada suatu hari, Rasulullah SAW menanyainya, “Hai Abul Mundzir! Ayat manakah dari Kitabullah yang teragung?” “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!” jawab orang itu. Nabi SAW mengulangi pertanyaannya, “Abul Mundzir! Ayat manakah dari Kitabullah yang teragung?” Maka ia menjawab, “Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia, Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk)-Nya” (QS. al-Baqarah : 255). Mendengar jawaban tersebut, kemudian Rasulullah SAW pernah menepuk dadanya dengan perasaan bangga yang tercermin dari pancaran wajah beliau dan mengucapkan selamat atas ilmu yang telah dia miliki. Rasulullah SAW berkata Ubay:” “Hai Abul Mundzir, selamat bagimu atas ilmu yang kamu capai.”

Selain itu, Ubay juga dikenal  sebagai seorang yang cerdas, cepat faham, dan fasih berbicara dalam bahasa Arab dengan kata-kata yang sangat indah, sesuai dengan makhraj dan kaidah-kaidah bahasa. Karena itu dia sangat pandai dalam berpidato. Sehingga siapapun tidak akan bosan mendengarkan pidato Ubay. Sosok Ubay digambarkan sebagai seorang yang sedikit tinggi, berkulit putih, berwajah cerah dan dua pipinya nampak begitu jelas. Wajahnya sangat jernih dan cerah seolah memancarkan sinar yang semuanya mencerminkan kesucian dan kebersihannya. Meskipun secara lahiriyah Ka’ab terlihat sebagai sosok yang tenang dan kalem, tetapi sebenarnya dia juga seorang yang bisa bersikap keras, galak bahkan terkadang bersikap agak kasar. Sebuah sosok yang agak kotradiktif. Namun demikian dia memang orang yang dikenal dengan pendiriannya yang tegas, berkata jelas, serta sangat menjunjung tinggi kejujuran.

Ubay juga dikenal sebagai orang yang zuhud, sholeh dan bertaqwa. Karena kesalehan dan ketakwaannya, Ubay selalu menangis setiap teringat Allah dan hari akhir. Ayat-ayat Alquran, baik yang ia baca atau yang didengarnya, selalu menggetarkan hati dan persendiannya. Ada salah satu ayat yang membuat hatinya selalu diliputi rasa duka yang tidak dapat terlukiskan, ayat tersebut adalah “Katakanlah, Ia Kuasa akan mengirim siksa kepada kalian, baik dari atas atau dari bawah kaki kalian, atau membaurkan kalian dalam satu golongan berpecah-pecah, dan ditimpakan-Nya kepada kalian perbuatan kawannya sendiri ….” (Al-an’am: 65).

Sifat zuhudnya ditunjukkan dengan cara menjahui hal-hal yang bersifat keduniawian. Hidup Ubay hanya dipergunakan untuk beribadah kepada Allah. Bagi Ubay, apa yang ada di dunia ini hanyalah bersifat sementara. Harta yang melimpah, bangunan yang megah, istri dan anak-anak semua adalah titipan dari Allah dan hanya amal perbuatan selama hidup di dunia yang akan membawa kebahagiaan yang sesungguhnya, yakni kebahagiaan di akhirat. Sehingga dia sama sekali orang yang tidak terpengaruh dengan segala sesuatu yang bersifat keduniawian hingga akhir hayatnya. Hari-hari Ubay hanya dihabiskan dengan pulang pergi antara masjid dan rumahnya. Hingga suatu saat ketika Ubay menderita sakit, penyakit yang dideritanya tidak menghalanginya untuk beribadah, melaksanakan ibadah haji dan umroh.

Masuknya Ubay bin Ka’ab ke dalam Islam terjadi setelah Rasulullah SAW Saw berhijrah ke Madinah. Pada saat itu para penduduk Yasrib (Madinah) menjadi kaum anshor-penolong Nabi Saw, dan mereka percaya kepada agama yang dibawa oleh beliau. Kemudian para penduduk Madinah mengajak Nabi untuk bertemu di Aqabah. Disana terjadi baiat pertama yang terdiri dari 12 orang. Setelah perjanjian di Aqabah, Rasulullah SAW Saw menyuruh Mush’ab bin Umair untuk pergi ke Madinah dan mengajari kaum muslimin di Madinah tentang ilmu-ilmu agama. Pada saat mendengarkan Mush’ab berdakwah itulah Ubay langsung menyatakan keIslamannya.

Sejak menyatakan dirinya sebagai seorang muslim, Ubay bin Ka’ab menjadi seorang yang ikut memperjuangkan agama secara total. Bersama Rasulullah SAW Saw dia ikut serta dalam berdakwah dan menata kota Madinah dengan baik bersama umat muslim lainnya. Ubay juga sangat aktif dalam mengikuti berbagai peperangan pada masa Rasulullah SAW.

Selain itu Ka’ab juga sangat dikenal sebagai seorang penghafal al-Qur’an, yang dapat membaca al-Qur’an dengan indah serta dapat memahaminya dengan sangat baik. Rasulullah SAW sendiri pernah mengatakan bahwa Ubay bin Ka’ab adalah seorang qari’(pembaca al-Qur’an) terbaik di kalangan umat beliau. Ubay bin Ka’ab juga salah satu sahabat yang pernah membaca seluruh Al-Qur’an dalam shalat Tahajud selama delapan malam berturut-turut.

Pernah pada suatu ketika Rasulullah saw sedang mengimami shalat dan tertinggal satu ayat dalam bacaan beliau. Kemudian Ubay bin Ka’ablah membetulkan kesalahan tersebut dengan berbisik pelan di belakang beliau. Setelah selesai shalat berjamaah, Rasulullah saw. bertanya, “Siapakah yang telah membenarkan bacaanku?”, kemudian Rasulullah saw. diberi tahu bahwa Ubay r.a yang telah membetulkan bacaannya. Lalu, beliau berkata, “Aku telah menduga memang Ubay orangnya.”

Dalam kisah lain diceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW dating kepada Ubay dan berkata:” Wahai Ubay bin Ka’ab, saya dititahkan untuk menyampaikan Alquran kepadamu.” Mendengar perkataan Nabi Saw, dengan perasaan bingung Ubay berkata, “Wahai Rasulullah, demi ibu dan bapakku. Adakah Allah telah menyebutku dengan memanggil namaku?”, maka Rasulullah sawpun menjawab, “Ya, benar, Allah SWT telah menyebut engkau dengan memanggil namamu.” Jawaban Rasulullah saw tentu membuatnya sangat terharu. Bayangkan saja jika seseorang yang sangat kita kasihi dan dambakan menyebut nama kita, sungguh kebahagiaan yang luar biasa.

Begitulah sosok Ubay yang banyak diliputi kemuliaan, bahkan Rasulullah SAW sendiri memujinya. Ubay juga menjadi salah satu sahabat yang pertama tama mencatatkan ayat-ayat al-Qur’an dalam bentuk tulisan dari kalangan anshor. Sebelum Nabi Saw berhijrah ke Madinah, Abdullah bin Sa’di bin Sarh yang selalu mencatatkan wahyu bagi Rasulullah SAW. Setelah beliau berhijrah ke Madinah, kemudian Rasulullah SAW menemukan sosok yang pas menjadi penulis wahyu pada diri Ubay bin Ka’ab. Tidak hanya menuliskan wahyu saja, Ubay bin Ka’ab juga  banyak menuliskan surat-surat  dan catatan-catatan beliau yang ditujukan kepada  orang-orang, yang bersifat penting dan rahasia yang menuntut penulisnya harus bersikap jujur, amanah, terpercaya, serta bias menjaga rahasia. Meski pada masa hidupnya Rasulullah SAW mempunyai banyak juru tulis seperti Abu Bakar Al-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Amr bin Ash dan masih banyak lagi, tetapi Ubay adalah salah satu sahabat yang paling sering menuliskan wahyu dan termasuk orang yang setia menjadi sang juru tulis Rasulullah SAW sampai akhir. Ubay bin Ka’ab memang dikenal mempunyai tulisan yang sangat bagus.

Selain menjadi sekreratis Rasulullah SAW, Ubay juga diangkat menjadi salah seorang hakim, disamping para sahabat Nabi Saw lainnya, seperti Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari dan Zaid bin Tsabit, yang bertugas untuk memutuskan persoalan-persoalan hukum umat Islam pada saat itu. Hal ini karena Ubay termasuk salah satu  orang yang alim dan seorang Faqih. Pada masa kholifah Abu Bakar Al-Shiddiq, Ubay juga termasuk sebagai salah satu anggota  penasehat khalifah diantara para sahabat yang lain seperti Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit. Para dewan ini bertugas sebagai tempat bertanya atas berbagai permasalahan umat.  Pada masa khalifah Umat bin Khattab, Ubay juga selalu dijadikan rujukan jika sang kholifah sedang menghadapi persoalan dan kesulitan yang besar. Demikianlah sosok Ubay bin Ka’ab yang mempunyai keistimewaan dan kedudukan tersendiri baik di mata Rasulullah SAW maupun di mata para sahabat yang lain.

Ubay bin Ka’ab wafat pada tahun 22 Hijriyah pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Begitu mendengar berita kematiannya, sang kholifah berkata:”Hari ini seorang pemimpin ummat Islam telah meninggal dunia”. Kematiannya membuat perasaan duka di kalangan kaum muslimin, karena telah kehilangan seorang pahlawan yang selalu ikhlas berjuang, yang namanya telah tercantum di langit[1].

Sebagai Penutup tulisan ini sebuah hadits dari Abu Darda’ bahawa Rasulullah bersabda:

إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ

Sesungguhnya kamu semua akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu dan nama bapak kamu. Maka perbaikilah nama-nama kamu.

(Abu Daud, Sulaiman bin al-Ash’at, 1388H, Sunan Abi Daud, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, hadith No. 4948.)

Sekian Penjelasan saya semoga bermanfaat bagi semua

Wassalam

15 Jumadil Awal 1435 H / 17 Maret 2014

Abu Abdullah Az Zubair

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s