7 Orang Penguasa Media Di Indonesia

Kuasailah Media, Maka Kau Akan Menguasai Dunia‘ Sebuah Kutipan yang sederhana, namun memiliki makna yang mendalam, pada kesempatan kali ini saya akan coba membahas 7 Orang Penguasa Media Di Indonesia, apakah mereka yang menguasai indonesia, silahkan pembaca simpulkan sendiri.

7. Eddy Kusnadi Sariaatmadja
pertama yang akan di bahas adalah Eddy Kusnadi Sariaatmadja atau yang biasa dipanggil dengan Kusnadi. Beliau adalah pemilik dari Emtek group yang berusia 59 tahun dengan total kekayaan 730 juta dollar atau kurang lebih 7,3 trilliun rupiah. Meskipun pasti beberapa Sobat Studentpreneur belum pernah mendengar apa itu Emtek, semuanya pasti tahu apa produk dari Emtek yang bermerk “SCTV” dan “Indosiar”. Ya, Eddy Kusnadi Sariaatmadja adalah pemilik dari SCTV dan Indosiar yang termasuk saluran televisi terbesar di Indonesia.

Meskipun berjaya di dunia hiburan, justru karir dari Kusnadi dimulai dari teknologi. Beliau menyelesaikan kuliah teknik sipil dari University of New South Wales di Australia pada Tahun 1978 serta S2 juga di bidang teknik pada tahun 1980. Berdasarkan kemampuan teknik yang kuat, Kusnadi memulai karir menjadi distributor komputer Compaq di Indonesia dengan bendera PT. Elang Mahkota Teknologi, inilah cikal bakal Emtek Group. Seiiring berkembangnya teknologi komputer di Indonesia, maka Emtek Group juga berkembang semakin besar.

Tidak puas hanya dengan dunia komputer, Kusnadi melebarkan bisnisnya ke dunia hiburan. Beliau mendirikan PT. Surya Citra Media Tbk dengan merk utama “SCTV”. Menjadi salah satu saluran televisi swastar terbesar, SCTV menyumbangkan keuntungan sampai 1,82 trilliun pada pundi-pundi Emtek Group. Meskipun pada awalnya didirikan oleh Peter Gontha, Henry Pribadi, Sudwikatmono, Aziz Mochtar, dan Halimah Bambang Trihadmodjo, saat ini 78,69% saham SCTV telah dimiliki oleh Eddy Kusnadi Sariaatmadja.

Meskipun SCTV telah sukses besar di dunia pertelevisian tanah air, Kusnadi tidak berhenti disitu saja. Emtek Group memutuskan untuk melakukan akuisisi Indosiar dari Grup Salim. Keputusan akuisisi ini tidak aneh, mengingat Indosiar juga termasuk salah satu saluran televisi terbesar di tanah air. Dengan mengakuisisi Indosiar, maka Emtek Group praktis menjadi salah satu pemain besar dan saingan utama dari MNC Group dalam bidang pertelevisian tanah air.

Kusnadi juga mempunyai bisnis perkebunan bernama PT. London Sumatra Plantation Tbk yang menghasilkan karet, kelapa sawit, kopi, kakao, dan lain-lain. Meskipun awalnya dipunyai oleh orang Inggris, 64,4% saham perusahaan ini telah dikuasai oleh beliau. Dengan asset sebesar 2,98 trilliun rupiah dan keuntungan hingga 2 trilliun lebih, PT. London Sumatra Plantation juga menjadi salah satu elemen terpenting Kusnadi. Kabarnya, Grup Salim mau melepas Indosiar karena juga dibonuskan dengan beberapa persen saham PT. London Sumatra Plantation ini.

(SCTV, Indosiar)

6. Abu Rizal Bakrie

Siapa yang tidak kenal dengan nama Aburizal Bakrie? Tokoh yang terkenal sebagai salah satu orang yang berpengaruh di Indonesia ini pernah menjadi orang terkaya di Indonesia pada tahun 2007. Selain itu, kiprah Aburizal ini juga cemerlang dengan menduduki salah satu posisi strategis di pemerintahan. Ir.H. Aburizal Bakrie lahir pada tanggal 15 November 1946 di Jakarta. Tokoh yang kerap dipanggil dengan nama Ical ini juga menjadi ujung tombak partai Golkar. Kini Ical menjadi salah satu pebisnis sekaligus praktisi politik yang namanya sering diperbincangkan. Keberhasilannya dalam memimpin perusahaan yang diwariskan oleh Ayahnya mengantarkan Ia menjadi orang sukses. Dibawah kepemimipinan Aburizal, perusahaan ini mampu bertahan walaupun perekonomian dihempas badai krisis yang hebat. Bahkan, kesuksesan usahanya menempatkan Ical menjadi salah satu orang terkaya di Asia Tenggara pada saat itu.

Ical juga berkiprah aktif dalam dunia usaha di Indonesia. Ia dipercaya untuk menjabat Ketua Umum Kadin Indonesia dari tahun 1994 hingga tahun 2004. Pengalamannya dalam mengetuai Kadin ini membawa pengaruh yang besar dalam pengambilan kebijakan pemerintah. Periode kepemimpinan yang cukup lama berhasill membuat Ical sebagai tokoh kuat dalam persoalan nasional yang lebih besar. Bahkan Ical sudah menjadi ikon dari Kadin Indonesia (Kamar dagang dan Industri). Kesuksesan Ical dalam berbisnis dan kiprah menjajaki dunia politik mulai mendapatkan perhatian yang besar ketika namanya ditunjuk sebagai Menko Perekonomian dalam jajaran Kabinet Indonesia Bersatu pada tahun 2004. Selanjutnya Ia terpilih lagi sebagai Menko Kesra setelah masa baktinya habis sebagai Menko Perekonomian.

Pada tahun 2007, keluarga Bakrie menjadi terkenal lebih luas setelah Majalah Forbes Asia menobatkan Aburizal Bakrie sebagai orang terkaya di Indonesia. Rahasia kesuksesan keluarga Aburizal terletak pada kemampuan melipatgandakan kekayaannya. Forbes membeberkan bahwa total kekayaan Aburizal pada saat itu sebesar 5,4 miliar dolar atau setara 50,2 triliun rupiah. Peringkat kekayaan Aburizal yang naik 5 peringkat keurutan pertama merupakan hasil jerih payah dalam mengelola raksasa bisnisnya. Aburizal menggusur lima taipan ekonomi Indonesia sekaligus, termasuk Sukanto Tanoto, pemimpin Grup Raja Garuda Mas dalam tempo satu tahun. Kesuksesan perusahaan ini diuntungkan oleh harga komoditas yang sedang melonjak di pasar dunia dan tren investor global yang berpindah di kawasan Asia Pasifik. Salah satu perusahaannya, PT Bumi Resources Tbk merupakan perusahaan yang mendapatkan keuntungan yang berlipat. Perusahaan yang bersaing dalam komoditi batubara ini mendapatkan permintaan yang banyak dari Cina maupun India. Bagai efek domino, saham yang ditawarkan oleh PT Bumi Resources Tbk diburu oleh investor. Sehingga harga sahamnya menjadi naik berlipat.

Bukan hanya PT Bumi Resources saja yang mendapatkan keuntungan, perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh keluarga Ical juga mendapatkan banyak keuntungan. Rahasia kesuksesan gurita bisnis keluarga Ical bukan saja dipengaruhi oleh kepiawaian perusahaan dalam melipatgandakan kekayaan. Menurut Presiden Komisaris Bumi Resources, Suryo Sulistyo mengatakan bahwa kesuksesan itu tak lepas dari langkah yang cepat Group Bakrie dalam membajak professional handal untuk menduduki top manajemen. Selain itu, menurut Dradjad Wibowo, kesuksesan bisnis Bakrie merupakan gabungan dari keberuntungan, kepandaian membaca pasar, serta kedekatan dengan lingakaran kekuasaan. Orang lain menambahkan bahwa kesuksesan ini juga dipengaruhi oleh faktor kemujuran.

Pada tahun 2011, kekayaan Ical ditaksir sebesar 890 juta dolar oleh Forbes. Jumlah kekayaan ini menurun drastis atau turun 57 persen dari tahun 2010. Aburizal harus puas bertengger pada urutan 30 dalam jajaran orang terkaya di Indonesia pada tahun tersebut. Namun bukan berarti perjalanan Ical berjalan lancar tanpa hambatan. Tahun 2006, salah satu anak perusahaan Bakrie menuai banyak protes oleh masyarakat. Pasalnya, kegiatan pengeboran yang dilakukan anak perusahaan Ical diklaim sebagai penyebab bencana lumpur Lapindo. Bencana ini mengakibatkan kerugian lebih dari 10 ribu penduduk dan lebih dari 400 hektar lahan yang terendam oleh lumpur. Sampai saat ini, masalah tersebut belum terselesaikan seluruhnya.

TvOne (sebelumnya bernama Lativi) adalah sebuah stasiun televisi swasta Indonesia. Stasiun televisi ini didirikan pada tanggal 30 Juli 2002 oleh pengusaha Abdul Latief. Pada saat itu, konsep penyusunan acaranya adalah banyak menonjolkan masalah yang berbau klenik, erotisme, beritakriminalitas dan beberapa hiburan ringan lainnya. Sejak tahun 2006, sebagian sahamnya juga dimiliki oleh Grup Bakrie yang juga memiliki Stasiun Televisi antv.

Pada tanggal 14 Februari 2008, Lativi secara resmi berganti nama menjadi tvOne, dengan komposisi 70 persen berita, sisanya gabungan program olahraga dan hiburan. Abdul Latief tidak lagi berada dalam kepemilikan saham tvOne. Komposisi kepemilikan saham tvOne terdiri dari PT Visi Media Asia Tbk sebesar 49%, PT Redal Semesta 31%, Good Response Ltd 10%, dan Promise Result Ltd 10%. Direktur Utama tvOne saat ini adalah Ardiansyah Bakrie tak lain adalah anak dari Abu Rizal Bakrie.

(TVONE, ANTV dan Viva.co.id)

5. Chairul Tanjung

Chairul Tanjung dilahirkan di Jakarta. Ia anak A.G. Tanjung, seorang wartawan di zaman orde lama yang pernah menerbitkan lima surat kabar beroplah kecil. Chairul dan keenam saudaranya hidup berkecukupan. Namun, pada zaman Orde Baru, sang ayah dipaksa menutup usaha persnya karena berseberangan secara politik dengan penguasa.
Setamat SMA, Chairul masuk Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia pada tahun 1981. Chairul menghadapi masalah pada biaya kuliahnya. Ia pun mulai berbisnis dari dasar sekali, berjualan buku kuliah stensilan, kaos, dan lainnya di kampusnya. Selanjutnya, ia membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di bilangan Senen Raya, Jakarta Pusat tapi bangkrut.

Setelah menutup tokonya, Chairul membuka usaha kontraktor. Kurang berhasil, Chairul bekerja di industri baja dan kemudian pindah ke industri rotan. Waktu itulah, ia bersama tiga rekannya ia membangun PT Pariarti Shindutama. Bermodal awal Rp 150 juta dari Bank Exim, mereka memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor. Keberuntungan berpihak padanya, karena perusahaannya langsung mendapat pesanan 160 ribu pasang sepatu dari Italia. Dari sini usahanya merambah ke industri genting, sandal dan properti. Sayang, karena perbedaan visi tentang ekspansi usaha dengan ketiga rekannya, Chairul memilih menjalankan usahanya sendiri.

Mengarahkan usahanya ke konglomerasi, Chairul mereposisikan dirinya ke tiga bisnis inti : keuangan, properti, dan multi media. Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Tugu yang kini bernama Bank Mega yang kini telah naik peringkatnya dari bank urutan bawah ke bank kelas atas. Selain memiliki perusahaan sekuritas, ia juga merambah ke bisnis asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Di sektor sekuritas, lelaki kelahiran Jakarta ini mempunyai perusahaan real estate dan pada tahun 1999 telah mendirikan Bandung Supermall. Di bisnis multimedia, Chairul mendirikan Trans TV, di samping menangani stasion radio dan media on line atau satelit. Ia juga bersiap untuk masuk ke media cetak.

Di tengah persaingan yang ketat di sektor media televisi, Chairul merasa yakin Trans TV akan mampu bersaing. Ini karena ia melihat pada belanja iklan nasional yang sudah mencapai Rp 6 triliun setahun, 70% di antaranya akan diambil oleh televisi. Jumlah perusahaan Chairul, yaitu Para Group mempunyai Para Inti Holdindo sebagai father holding company, yang membawahi beberapa sub holding seperti : Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi) dan Para Inti Propertindo (properti) dan jumlah karyawan yang dipekerjakan kurang lebih mencapai 5.000 orang.

Dikutip dari detik.com bahwa Chairul Tanjung (CT) yang telah mengakusisi 40% saham PT Carrefour Indonesia direspon positif oleh sesama pengusaha di dalam negeri.

Diharapkan Carrefour dibawah Chairul Tanjung bisa mengendepankan kepentingan nasional yaitu dapat menyumbangkan pembinaan terhadap usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia.

“Jadi harus betul-betul membela kepentingan kita, jangan justru sebaliknya,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi saat dihubungi detikFinance, Minggu (18/4/2010).

Sofjan mengakui langkah Para Group tersebut merupakan aksi yang positif bagi dunia usaha di Indonesia. Selain itu, kata dia, kehadiran pengusaha lokal disebuah perusahaan asing akan memberikan keyakinan bahwa kiprah Carrefour di Indonesia tidak semata-mata hanya untuk kepentingan pemodal asing.

“Saya harapkan Chairul Tanjung bisa mebantu para pelaku UKM, dengan dia masuk tidak lagi menimbulkan konfrontasi, jadi kuncinya ada di Chairul Tanjung,” katanya.

Seperti diketahui, Chairul Tanjung melalui kelompok usahanya yaitu Para Group mengakuisisi 40% saham PT Carrefour Indonesia senilai lebih dari Rp 3 triliun. Akuisisi itu dilakukan Trans Corp melalui PT Trans Ritel, sebuah anak perusahaan Trans Corp.

Setelah akuisisi oleh Trans Corp ini, maka komposisi pemegang saham PT Carrefour Indonesia adalah Trans Ritel (40%), Carrefour SA 39%, Carrefour Netherland BV 9,5%, dan Onesia BV 11,5%.

Setelah membeli 40% saham Carrefour, Chairul kini menjadi komisaris utama PT Carrefour Indonesia didampingi oleh AM Hendropriyono (mantan Kepala BIN) dan S.Bimantoro (mantan petinggi Polri) sebagai komisaris.
Gurita bisnis Chairul Tanjung memang sudah meluas. Setelah menguasai bisnis stasiun televisi, bank hingga waralaba, Chairul Tanjung meluaskan bisnisnya ke ritel dengan membeli 40% saham PT Carrefour Indonesia.

Setelah akuisisi oleh Trans Corp ini, maka komposisi pemegang saham PT Carrefour Indonesia adalah Trans Ritel (40%), Carrefour SA 39%, Carrefour Netherland BV 9,5%, dan Onesia BV 11,5%.

Chairul Tanjung menempatkan dirinya pada urutan ke 937 dari 1.000 orang terkaya didunia versi majalah forbes dengan total kekayaan senilai US$ 1 Miliar. sedangkan daftar 40 orang terkaya Indonesia tahun 2009 versi Forbes yang dirilis, Kamis (3/12/2009) lalu. Chairul Tanjung menempatkan dirinya pada posisi ke 13 , datanya bisa dilihat disitus detik.com disini 

Pendididkan
– SD Van Lith, Jakarta (1975)
– SMP Van Lith, Jakarta (1978)
– SMA Negeri I Budi Utomo, Jakarta (1981)
– Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (1987)

Kegiatan Lain
– Anggota Komite Penasihat Prakarsa Jakarta (Restrukturisasi Perusahaan)
– Delegasi Indonesia untuk Asia-Europe Business Forum
– Anggota Pacific Basin Economic Council
– Pengurus Yayasan Kesenian Jakarta
– Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia
– Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia
– Ketua Yayasan Indonesia Forum

(Trans TV, Trans 7 dan Detik.com)

–Bersambung–

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s