Teknologi : Menghancurkan Bisnis dan Membangun Bisnis

Tulisan ini sengaja saya tulis setelah tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya ketika minggu sore di rumah dengan kegiatan hanya main game di laptop kecil saya.

“Kemana yah perginya bapak-bapak tukang cetak foto dulu yang ada di sekitar kampus dekat mesjid tempat saya mengaji al-quran dulu?”.

Perkembangan teknologi yang begitu pesat dewasa ini membuat sebagian usaha menjadi benar-benar mati atau sebagian “mati suri”, usaha yang benar-benar mati yang seperti saya contohkan tadi adalah sudah tidak ada lagi (jarang) kamera yang menggunakan film ber klise, sehingga usaha cetak foto kilat yang menggunakan box di temani lampu remang berwarna merah, air dan kompor sudah jarang kita temui.

yang ada sekarang adalah cetak foto digital menggunakan media penyimpanan removable disk seperti flashdisk, CD atau bahkan dari HP/Kamera langsung.

“Lalu si bapak-bapak yang memiliki keahlian cetak foto kilat dulu sekarang kerja apa?”

Entahlah, saya pun tidak dapat menjawab pertanyaan itu, namun satu hal yang pasti adalah usaha mereka tergilas teknologi.

Contoh kedua adalah usaha Warung Telekomunikasi (Wartel) yang sangat menjadi primadona dan merupakan lumbung uang di era tahun 2000 -an. begitu pesatnya perkembangan usaha wartel, sehingga beramai-ramai lah orang berusaha membangun bisnis ini ada yang tipe A untuk wartel besar atau pun wartel tipe B (Mungkin ada tipe yang lain yang tidak saya ketahui, hehe..), KBU ada dimana-mana, tidak hanya di kota bahkan sampai daerah pelosok perdesaan.

Namun seiring perkembangan teknologi telekomunikasi,khususnya teknologi telepon selular /handphone yang sangat pesat membuat bisnis wartel ini juga tergilas oleh teknologi. Sangat banyak Pemilik Wartel yang gulung tikar yang akhirnya KBU mereka jadikan tempat penyimpanan Barang-barang atau malah di bongkar dan di ambil kayu nya untuk di fungsikan untuk kegunaan yang lain.

Contoh Ketiga adalah usaha Warung Internet (warnet) sama hal nya dengan wartel, usaha warnet ini mulai menjamur di era tahun 2003-an keatas, dimana-mana warnet di banjiri siswa, mahasiswa maupun pekerja, dan bahkan ada yang harus antri guna bias mengakses internet di warnet tersebut. Biasanya mereka mencari informasi atau mengakses situs sosial media yang populer kala itu seperti friendster.com dan lainnya.

Bahkan di daerah terpencil biaya akses internet di warnet bisa sampai Rp. 20.000/jam yang lebih luar biasanya dengan biaya segitu mahal, penggunanya juga antri.enar-benar Bisnis yang luar biasa (Kala itu).

Namun di tahun 2012 ini atau mungkin semakin terlihat kedepan bisnis warnet pun bukan lagi sebuah bisnis yang prospektif untuk dibangun.

Karena Akses untuk internet benar-benar mudah dan murah bagi masyakat sekarang ini. Dengan perkembangan smartphone yang sangat cepat dari setiap kuartal setiap tahunnya dan didukung oleh provider-provider telekomunikasi menyediakan biaya murah mulai dari Rp. 1 /Kb atau bahkan ada yang Nol koma sekian, masyarakat autis dengan Smartphonenya dalam mengakses internet, mulai dari yang tersenyum atau tertawa sendiri ketika membaca pesan atau komentar temannya di situs sosial media mereka.

Namun dalam hal ini ternyata teknologi mempermudah kita, terkadang juga mempersulit kita, sebagai contoh ketika kita berada di sebuah daerah yang baru kita kunjungi, dan kala itu Handphone kita kehabisan baterai, dan lupa membawa charger padahal kita harus menghubungi seseorang di daerah itu guna menjemput kita, karena kita sangat tidak mengenal daerah tersebut, hal apa yang terlintas pertama di pikiran kita, tentu mencari sarana komunikasi seperti wartel, namun ternyata kita begitu kesulitan mencari wartel karena hampir di pastikan sangat jarang ada wartel yang masih aktif di 2012 ini. Menyulitkan bukan?

Dan bukan tidak mungkin hal yang sama akan terjadi 3 sampai 5 tahun kedepan ketika kita kesulitan untuk menemui warnet-warnet yang aktif saat itu.

Kalo yang kita bahas diatas adalah bagaimana “teknologi menghancurkan bisnis”, selanjutnya kita akan coba membahas bagaimana teknologi membangun bisnis baru atau membuka kesempatan membangun bisnis yang sebelumnya tidak ada sekarang menjamur dimana-mana.

Contoh pertama adalah dengan matinya bisnis wartel dimana-mana, yang bermunculan adalah bisnis penjualan pulsa elektrik untuk satu atau semua kartu provider yang digunakan masyarakat dimana-mana, mulai dari toko-toko ataupun counter-counter di setiap sudut kota dan desa atau bahkan banyaknya penjual pulsa tanpa toko/counter yang oleh sebagian orang “handphone ku, counterku”.

Contoh kedua adalah munculnya bisnis jasa menawarkan internet via hotspot dimana-mana, terutama di sekitaran kampus di perkotaan. Jadi ketika kita ingin menggunakan akses internet mereka, maka untuk hak akses login hanya akan di dapat ketika kita terlebih dahulu deposit, bahkan sekarang jasa internet hotspot ini ada yang tidak menggunakan uang sebagai media pembayaran tetapi pulsa, misalnya kita mentransfer pulsa ke nomor yang sudah di tentukan sebesar Rp. 5000,- maka user ID dan Password untuk login tersebut akan di kirimkan via sms oleh si pemilik jasa hotspot tersebut. Jadi tidak ada terjadi tatap muka antara pemilik usaha dengan customer (Faceless).

Mungkin masih banyak contoh yang kita lihat sekarang bagaimana perkembangan teknologi ini membangun bisnis atau membuat peluang bisnis baru bagi masyarakat namun tidak dapat diuraikan di tulisan ini satu persatu, saya hanya mengambil beberapa contoh sederhana.

Hal mendasar yang harus kita pahami sebagai pebisnis atau calon pebisnis sekarang ini adalah kajian lebih mendalam akan prospektif bisnis yang akan di bangun dan bersifat menjanjikan dalam jangka panjang. Mengikuti trend bisnis jamuran juga bukan merupakan hal yang salah asalkan kita siap dengan perubahan-perubahan, sehingga ketika bisnis kita mulai redup, kita harus sigap melihat peluang bisnis selanjutnya.

(teddy)

2 pemikiran pada “Teknologi : Menghancurkan Bisnis dan Membangun Bisnis

    1. yang mematikan bisnis training adalah unconsistent dari si pemilik jasa, training lebih pada dasar “bagaimana kita membuat pintar orang lain” bukan profit yang menjadi prioritas utama, profit atau keuntungan hanya lah bonus bukan prioritas, hal lain yang membuat hancur bisnis training adalah adanya upaya pencitraan diri personal salah satu pengelola jasa training, menunjukan kalau dia adalah orang yang luar biasa, hebat serta pintar. Yang akan memberikan penilaian terhadap diri kita bukan berdasarkan apa yang kita tampilkan secara “terpaksa” mungkin ke tengah masyarakat, tapi keikhlasan kita dalam berbuat lah yang membuat citra kita baik di masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s